Dasar Mendidik Anak Yang Paling Utama

Jul 30th, 2018 | By ndoys | Category: Ibu dan Anak, Inspirasi, Newest Post

“Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar” (QS. An Nisa ayat 9)

Bagaimana membentuk anak yang tidak lemah? Tetapi justru kuat, baik secara fisik, akal maupun mental. Kuat secara fisik tentu bisa dilatih dengan berolahraga dan asupan gizi yang baik, ilmu dan akal bisa didapat dari pendidikan formal. Nah, yang menjadi tantangan besar bagi orang tua adalah mempersiapkan anak agar kuat secara mental.


Beberapa waktu yang lalu saya beruntung mendapat kesempatan untuk mengikuti kajian Bapak Ali Nugraha, Tenaga Ahli Direktorat Pembinaan Pendidikan Keluarga, Kemendikbud. Ada beberapa hal penting yang ingin saya share dari kajian tersebut mengenai dasar mendidik anak.

Dasar mendidik anak yang paling utama adalah:

Selalu ingat bahwa ANAK ADALAH AMANAH DARI ALLAH sehingga harus kita jaga dengan baik dan penuh tanggung jawab.

Selalu ingat juga bahwa ANAK BELUM AQIL BALIGH/ BELUM BERAKAL. Arti aqil baligh adalah orang yang berakal. Jadi anak yang belum aqil baligh bisa dikategorikan sebagai “belum berakal” dan tidak berdosa. Sehingga alangkah tidak bijaksananya kita memarahi, menyalahkan, bahkan menghukum seseorang yang “belum berakal”.

Lantas bagaimana jika anak berbuat suatu hal yang tidak patut, misalnya anak menangis histeris di depan umum, membantah, merebut, mengejek temannya, berkata kasar, memukul adiknya, berteriak-teriak, dsb? Siapa yang harus disalahkan?

Anak tidaklah patut disalahkan karena mereka belum aqil baligh atau belum berakal. Jadi akar masalahnya bukan pada anaknya, tetapi pada orang tuanya. Mengapa begitu? Karena anak adalah “produk” hasil meniru orang tua.

Anak-anak dikaruniai automatic memorize system. Studi menyatakan bahwa ada tahapan yang dilalui anak dalam menghasilkan suatu perilaku, yaitu OBSERVING, COMPARING, DECISION. Cukup tiga kali suatu hal diulang agar anak secara otomatis menirunya. Berikut tahapannya:

1. Panca Indra. Semua berawal dari panca indra, apa yang diamati anak masuk terutama melalui mata dan telinga. Apa yang dilihat dan didengar anak akan tertanam secara otomatis dalam otak.

2. Persepsi. Anak kemudian akan belajar dan memutuskan. Ia akan memilah perilaku yang “dibolehkan” (karena orang tuanya pun melakukannya), dan memutuskan bahwa perilaku tersebut “boleh” ditiru.

3. Perilaku. Hal ini kemudian menjadi gaya, gerak, tindakan, atau perilaku anak.

4. Kebiasaan atau karakter. Perilaku ini jika dibiarkan akan menjadi kebiasaan atau karakter. Karakter yang terbentuk bisa positif atau negatif, tergantung dari orang tua. Jika karakter yang terbentuk negatif, maka harus segera dikoreksi.

Misalnya, orang tua menyuruh anaknya mandi dengan cara berteriak, “Kaaak! Mandiiii!” Jika cara berteriak itu diulang sebanyak tiga kali saja, maka anak akan berkesimpulan bahwa berteriak itu wajar. Demikian pula berkata kasar misalnya. Meskipun tidak ditujukan kepada anak, saat orang tua sedang mengobrol atau menonton tv, kemudian secara tidak sadar terucap kata “bego banget sih!”, misalnya, anak akan merekamnya dan merasa bahwa itu hal wajar untuk diucapkan.

Lantas, bagaimana cara mengoreksi perilaku anak?

Yang pasti, butuh waktu dan konsistensi. Jika anak baru-baru ini saja disuruh sholat 5 waktu, jangan harap ia akan langsung rajin sholat. Ada istilahnya normal correction time. Yaitu, waktu yang dibutuhkan untuk berubah. Jika tidak pernah disuruh sholat selama 3 tahun, maka dengan kesabaran dan konsisten tunggulah 3 tahun kemudian barulah ia akan rajin sholat. Jika orang tua berbicara dengan cara berteriak-teriak selama 5 tahun terakhir, orang tua baru bisa berharap 5 tahun kemudian anak akan berhenti menggunakan cara teriak-teriak. Asalkan orang tua sabar dan konsisten memberi contoh tidak teriak-teriak lagi dalam berbicara.

JANGAN ABAIKAN HAL SEPELE

Juga jangan abaikan hal sepele “Lucuu”, “Ah gitu doang gak apa-apa”, “Ah masih kecil ini”, “Biasa aja kali”. Karena akan terbawa anak sampai besar. Misalnya anak laki berambut panjang dibilang lucu, maka sudah besar ia akan susah disuruh potong rambut. Atau anak tidak pakai baju keluar rumah dibiarkan karena “masih kecil ini”, maka sudah besar ia akan dengan mudah membuka aurat. Dll.

LAST SIGNAL EFFECT

Hal penting lain yang perlu dicermati adalah Last signal effect. Pesan terakhir yang kita sampaikan pada anak akan paling menempel di otak. Maka jika kita mengomel, selalu akhiri dengan baik. Misalnya, dengan meminta maaf atau memeluk, dll. Maka di masa depan apa yang diingat oleh anak adalah “Ibu saya dulu meskipun suka mengomel tapi selalu besar hati untuk meminta maaf.” Janganlah sampai yang diingat “Ibu saya udah suka ngomel, pelit lagi!”

JAGA KESADARAN DAN NIAT

Orang tua perlu senantiasa menjaga kesadaran dan niat. Mari perbaiki akhlak kita, ucapkan selalu perkataan yang benar, agar anak mendapat teladan perilaku yang baik. Lalu bertakwalah kepada Allah, berserah dirilah kepada Allah. InsyaAllah, atas ijin Allah anak akan tumbuh menjadi manusia yang kuat dan berakhlak baik. Semoga bermanfaat.

Artikel Terkait:

  1. Anak Durhaka dari Singapura (Sebuah Kisah Nyata)
  2. Makna Haji (1)
  3. Makanan Bayi 9 Bulan
  4. Bayi Rewel Kalau Ditinggal
  5. Merubah Kebiasaan Bayi Tidur Digendong


Leave Comment