Anak Perempuan Dijauhi Teman-temannya

Feb 23rd, 2018 | By ndoys | Category: Ibu dan Anak, Newest Post

Anak perempuanku punya sifat asli yang ceria, humoris, dan mudah berteman dengan siapapun. Kalau ketemu teman baru, pasti ia yang menyapa duluan dan mengajak bermain. Setiap pergi ke sekolah ia selalu bersemangat hingga suatu waktu di pertengahan kelas 1 SD, sepulang sekolah dia terlihat murung dan sedih.

Waktu aku tanya sebabnya, untungnya ia langsung mau cerita. Ternyata ia dijauhi dan dikucilkan oleh beberapa temannya, “Aku tidak diajak main. Si A bilang ke teman-teman yang lain, jangan main sama aku.”

Spontan aku interogasi, jangan-jangan anakku bikin salah. “Emang kamu salah apa?” Anakku bersikeras bahwa ia tidak melakukan kesalahan apapun, “Aku gak salah apa-apa! Tapi aku gak boleh ikut main sama mereka!”

Aku pikir ini aneh. Aku tanya lagi, “Siapa temanmu yang melarang?”

Anakku jawab, “Si A!”

Lalu aku tanya lagi, “Siapa saja yang tidak boleh ikut main sama si A?” Ternyata bukan cuma anakku yang dilarang main sama geng mereka.

Sumpah aku kaget banget, perasaan jamanku dulu anak-anak mulai bikin kelompok eksklusif alias nge-geng itu saat SMP, nah ini kan baru kelas 1 SD??

Kan kasihan sementara anak-anak seumur itu masih punya kebutuhan besar untuk bermain bersama teman-temannya, ini sudah dikucilkan seperti itu. Bagaimana dampak psikologisnya terhadap si anak yang menjadi korban.

Setelah browsing sana-sini, ternyata hal ini adalah salah satu bentuk bullying yang umum terjadi. Dan di setiap sekolah, baik sekolah negeri, swasta, internasional, pasti ada anak pembully macam begini. Dan ini rata-rata terjadi pada anak perempuan.

Banyak kasus seperti ini yang jika dibiarkan menyebabkan si korban jadi tertekan, hilang rasa percaya diri, mogok makan, mogok sekolah, nilai akademis menurun, bahkan hingga depresi.

Aku pikir masalah ini cukup serius dan harus segera di intervensi karena membuat lingkungan sekolah menjadi tidak nyaman. Bukan saja bagi anak yang dikucilkan, tapi bagi teman-teman yang dimasukkan ke dalam geng juga mereka merasa tidak nyaman karena pertemanan mereka jadi terbatas.

Bahkan ada teman anakku yang mengeluh pada ibunya, “Aku malas sekolah, soalnya si A gak bolehin aku main sama yang lain.”

Tindakan yang harus dilakukan adalah:

Yang pertama dan paling penting adalah besarkan hati anak. Ini penting sekali, tekankan bahwa tindakan si A adalah tidak baik. Tanyakan pada anak, siapa teman-teman lain yang ia suka yang tidak termasuk dalam geng, dan bujuk ia supaya bermain dengan teman yang baik-baik saja.

Kedua, laporkan pada guru. Minta agar guru bertindak jika terjadi hal ini. Tekankan bahwa memang hak setiap orang untuk memilih teman, tetapi jika ia “mengatur” pertemanan anak-anak lain itu namanya egois. Apalagi jika yang “dimusuhi” tidak punya salah dengan teman yang lain. Guru harus memberi perhatian dan membela yang terdzalimi.

Ketiga, diskusikan pada orang tua murid yang lain agar menumbuhkan rasa empati pada anak dan menasihati mereka untuk bermain bersama-sama, “Bagaimana kalau kamu yang dikucilkan, apakah kamu mau?”

Alhamdulillah, sekarang kasus kucil-mengucilkan sudah jarang terjadi. Dan saat terjadi, anakku sudah bisa membawa diri, bersikap cuek dan tidak dimasukkan dalam hatinya. Hari ini dikucilkan, besoknya sudah ceria lagi dan sudah bermain bersama lagi.

Artikel Terkait:

  1. Cara Mudah dan Cepat Mengenalkan Warna pada Anak
  2. Hamil 8 Bulan Keluar Cairan dari Vagina
  3. Pusing dan Puyeng saat Hamil
  4. Anak 2 Tahun Selalu Berkata “Tidak!”
  5. Tumbuh Gigi di Usia 9 Bulan


Leave Comment