Refleksi atas Pertemuan Jumat Pagi by Anies Baswedan

Oct 20th, 2015 | By ndoys | Category: Inspirasi, Newest Post
Tulisan di bawah ini adalah tulisan bapak Anies Baswedan, salah seorang sahabat Abah, ayah saya. Saya mendapat forward email tersebut dari Abah dan saya memutuskan untuk men-share isi email ini di blog karena poin-poinnya sangat krusial dan semoga bisa bermanfaat bagi putra bangsa tercinta. Selamat membaca dan semoga mendapat hikmah

Kang Aat,
Tulisan dibawah ini disebarkan ke semua pimpinan di kementrian. disebarkan sehari sesudah acara sbg Refleksi atas kegiatan bersama Abah
Salam, anies

Begin forwarded message:
Kepada Yth
Para Pemimpin
di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Semoga saat email ini sampai, Ibu dan Bapak dalam keadaan sehat, bahagia dan penuh semangat.

Melalui email ini saya ingin menyampaikan apresiasi dan terima kasih atas kehadiran dalam acara pertemuan hari jumat pagi yang lalu. Kita mengundang Iwan Abdurrahman, atau saya biasa memanggil Abah Iwan, karena begitu banyak kemiripan dan hikmah yang bisa menjadi pelajaran bagi kita di Kemendikbud.

Hampir semua yang hadir pernah mendengar – dan bahkan menyukai- lagu Melati Dari Jayagiri atau Flamboyan atau Burung Camar atau Mentari tapi amat sedikit yang mengetahui siapa penggubah lagu2 itu. Lebih jauh lagi, sangat amat sedikit yang pernah mendengar secara lengkap kisah di balik untaian kata2 penuh makna dalam setiap lagu itu. Abah Iwan menyusun kalimat dan nada itu dalam “sunyi”. Abah Iwan bekerja di belakang panggung, di balik layar tapi pada dialah sesungguhnya hulunya, awal sebuah lagu itu dibangun.

Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan adalah hulu, Kita berada di balik layar, di belakang panggung tapi pada kementrian inilah hulunya, awal dari kebudayaan dan peradaban Indonesia itu dibangun.

Lihat gitar yang digunakan oleh Abah Iwan. Jika salah satu dawainya kendor, gitar itu tak lagi mengirimkan nada yang pas. Dawai itu nampak biasa, tak terkesan penting tapi sekecil apapun perannya, ia ikut menentukan hasil karya Abah Iwan. Setiap kita memainkan peran, kita mungkin sudah terbiasa, sudah terlalu lama menjalani peran itu sehingga tidak lagi menyadari betapa mendasarkan peran yang sedang dijalankan.

Abah Iwan menggubah sebuah lagu bukan semata-mata utk menjalankan tugas, dia menggubah lagu karena ingin ikut mewarnai Indonesia, ikut membentuk kesadaran pendengarnya tentang pesan-pesan filosofikal yang dia kirimkan. Kementrian ini menjalankan tugasnya bukan semata-mata untuk menjalankan program, meningkatkan serapan, tapi karena kita semua akan mewarnai Indonesia. Setiap pemimpin dan staf di Kementrian ini ikut membentuk kesadaran pelajar, guru, orang tua, kepala sekolah dan masyarakat tentang pesan-pesan kemajuan dan keIndonesiaan. Pada kementrian ini wajah masa depan Indonesia dipersiapkan dan dibangun.

Sekali lagi, baik penggubah lagu seperti Abah Iwan maupun segenap pejuang di Kementrian ini, semua bekerja di balik layar. Saat saat terbangun saluran irigasi, saat mesin kapal nelayan menyala, saat bibit untuk petani tumbuh, saat perekonomian tumbuh pesat dan adil, saat karya seni mempesona dunia, atau terbangun jalan dan listrik di seluruh penjuru negeri: saat itu kita menyaksikan bukti kongkret hasil kerja di balik layar kementrian ini. Begitu juga saat etika tak dipraktekan, saat korupsi masih menyerebak, saat ketidakdisiplinan jadi kelumrahan, maka saat itulah kita menyaksikan pekerjaan rumah yang belum dituntaskan di kementrian ini.

Dalam pertemuan kemarin, Abah Iwan banyak berkisah tentang hikmah dari perjalanan hidupnya. Tak seragam, tiap kita bisa menangkap relevansi kisahnya sesuai dengan pengalaman kita masing-masing. Setiap kita memiliki cara pandang dan refleksi yang unik atas pertemuan jumat pagi itu.

Meski begitu, saya rasa, semua tentu menyadari bahwa Abah Iwan menghasilkan karya dengan hati dan sepenuh hati. Ia  ambil hikmah dari yang dijalaninya. Hikmah itu dijadikannya lirik. Bukan saja nada yang penuh rasa, tapi eskpresi ide dengan kata-kata yang berakar, yang kokoh karena ditopang makna dan pesan yang kuat. Seperti yang dikatakan jumat pagi itu, ia tidak mengarang. Ia mengungkapkan apa yang dia rasakan.

Coba lihat kisah dibalik digubahnya lagu Burung Camar. Abah Iwan sudah berhari-hari melihat burung camar, begitu juga dengan perahu nelayan. Semua itu telah terlihat sejak hadir pertama. Tapi baru sesudah dia membuka hati, merasakan dengan hati lalu mengalirlah kata demi kata hingga menghasilkan karya yang luar biasa itu.

Pertemuan jumat pagi itu adalah pertemuan dengan hati. Hadirin menyimak dengan hidmat, bukan sekadar mendengarkan lagu dan kalimat reflektif yang dikisahkan oleh penggubahnya; pagi itu kita sama-sama mendengarkan dengan hati. Ini contoh kecil bahwa jika sebuah kegiatan dikerjakan dengan hati dan sepenuh hati, maka ia akan diterima dengan hati dan punya efek tular yang luar biasa.

Kita memiliki amanah konstitutional untuk menjalankan tugas di bidang Pendidikan dan Kebudayaan. Tugas kita di Kementrian ini ada banyak. Tapi seperti hikmah dari kisah pendaki itu: It is not about me. Dia secara sukarela memutuskan turun agar tim-nya bisa tetap naik membawa Sang Merah-Putih sampai di puncak Gunung Elbrus. Misi mereka bukan tentang pendakinya sampai di puncak, tapi tentang Sang Merah Putih sampai di puncak. Ini bukan soal saya, bukan soal kami; ini soal kita, ini soal Indonesia tercinta kita. Menjalankan amanat konstitusional ini bukan soal saya, bukan soal kami. Ini soal kita, ini soal Indonesia, ini soal wajah masa depan Indonesia kita.

Saya sering katakan pada teman-teman muda di berbagai acara bahwa inspirasi itu tidak hadir dari perenungan, ia hadir dari interaksi. Dan seperti ungkapkan oleh Abah Iwan di awal pertemuan: Keberhasilan sebuah pertemuan bukan ditentukan oleh dari kehebatan narasumbernya tapi dari kerendahan hati pendengarnya untuk menerima apa yang disampaikan.

Sekaligus ini berarti masih terbuka luas ruang untuk setiap kita merefleksikan pengalaman atas pertemuan Jumat pagi itu dan mengumpulkan hikmah yang terserak menjadi kebijakan (wisdom) untuk kebajikan bagi kemajuan negeri tercinta ini.

Bapak dan Ibu yang terhormat, perjalanan masih panjang, tugas masih banyak dan kesempatan berkarya terbuka luas. Meski berada di hulu, di balik layar dan di rute yang panjang masa tunggu efeknya mari kita pastikan bahwa karya kita di kementrian ini adalah karya bermakna bagi bangsa Indonesia di masa kini dan masa depan. Mari kita sama-sama pegang teguh spirit anak muda pendaki gunung itu: It is not about me, it is about our beloved nation.

Sesungguhnya setiap karya adalah potret diri dari pembuatnya, karenanya tandailah karya itu dengan kecemerlangan, dengan keseriusan. Mari kita tunjukkan bahwa karya tiap kita di kementrian ini adalah potret diri kita yang cemerlang.

Selamat meneruskan karya dan salam hangat,
Anies Baswedan

Balasan kang Aat Suratin:

Kang Anies yang baik. Tulisan sudah dibaca juga oleh Abah. Terima kasih. Kami merasa menjadi sangat berharga karena merasa apa yang kami sampaikan bisa dipahami, dimengerti, diapresiasi esensinya. Kami telah “manggung” dimana-mana, berbagi kisah dan hikmah dengan berbagai kalangan namun sungguh tak banyak yang mengapresiasi sedalam dan sehakiki Kang Anies. Dan Kang Anies menyampaikannya pula kepada Saudara-saudara kita yang terlibat dalam pertemuan itu. Sekali lagi, terima kasih, semoga upaya kita membangun Indonesia melalui Kerja Budaya yang sungguh-sungguh (nyaanan) ada pada jalan yang benar dan senantiasa diberkahi Allah SWT. Salaam.

Artikel Terkait:

  1. Alam Semesta Sebagai Penampakan Allah
  2. Tips Menghindari Kebosanan
  3. Makna Haji (4)
  4. Makna Haji (3)
  5. Siapakah Aku?


Leave Comment