Nasihat Abah kepada Anak-anak

Aug 19th, 2015 | By ndoys | Category: Inspirasi, Newest Post

Bandung, 1 Syawal 1436 H

Alhamdulillah kita telah melalui bulan Ramadhan yang dihadiahkan Allah SWT kepada kita dimana di dalamnya banyak kebaikan yang tidak bisa tergantikan oleh bulan-bulan lain. Mudah-mudahan kita mendapat berkah hikmah dari bulan Ramadhan atas belas kasihan Allah kepada kita semua.

Pada kesempatan ini Abah ingin menyampaikan beberapa hal yang sangat penting dan mudah-mudahan menjadi manfaat bagi kita.

1. Diisyaratkan dalam surat al Mulk bahwa dalam hidup ini tidak semuanya seperti yang kita duga atau harapkan, jadi mari hadapi hidup dengan 2 hal, yaitu rauf dan raja’. Dalam hidup ini kita hanya berharap kepada Allah, hanya meminta kepada Allah, meminta belas kasihan Allah. Dan takut terhadap ketentuan-ketentuan yang di luar harapan kita, walau ketentuan-ketentuan itu mengandung rahasia kebaikan bagi kita.

Mari kita “baca” surat al-Mulk dan jangan hanya dibaca sebagai pengetahuan tetapi dilenyepan, dikhidmati dan dimaknai betul-betul bahwa hidup itu seperti apa yang disampaikan dalam alQuran.

2. Abah ingin menyampaikan sebuat untaian do’a dari orang yang dimuliakan Allah dan tidak diragukan kesucian imannya.
“Ya Allah, sungguh Engkau telah memerintahkan kami untuk mengampuni siapapun yang berbuat aniaya kepada kami. Sungguh kami telah berbuat aniaya terhadap diri kami sendiri, dan kami telah mengampuni orang-orang yang berbuat aniaya kepada kami sebagaimana yang Engkau perintahkan. Karena itu, ampunilah kami, karena sesungguhnya Engkau lebih layak untuk mengampuni semua itu daripada kami, dan orang-orang yang Engkau perintahkan.
Engkau telah memerintahkan kami agar tidak menghardik peminta-minta dari pintu rumah kami. Dan kami telah mendatangiMu sebagai peminta-minta yang miskin, dan sungguh kami telah merintih di haribaan dan pintuMu untuk menuntut karunia, ma’rifat dan pemberian dariMu. Karena itu, anugerahkanlah semua itu kepada kami dan janganlah engkau kecewakan kami, karena sesungguhnya engkau lebih layak untuk semua itu daripada kami dan orang-orang yang Engkau perintah.
Ilahi Engkau Maha Pemurah karena itu kasihanilah daku bila daku tergolong orang-orang yang memohon kepadaMu. Dan Engkau telah menganugerahi (seseorang) dengan kebaikan maka gabungkanlah daku bersama orang-orang yang berhak mendapatkan karuniaMu, wahai Ynag Maha Pemurah.”

“Ya Allah, sungguh Engkau telah memerintahkan kami untuk mengampuni siapapun yang berbuat aniaya kepada kami.” Berbuat aniaya itu bukan hanya perbuatan fisik. Dhazir kata-kata, sikap, tingkah laku, bahasa tubuh yang menyakiti orang lain itu adalah perbuatan aniaya. Di bawah sadar kita sering melakukan hal itu. Abah maupun Ambu kepada anak-anak dan cucu-cucu, mungkin ada ucapan tingkah laku bahkan sekedar kereteg hate yang tidak terucapkan atau terlisankan terumuskan dalam kata-kata, tapi sebenarnya memberi aniaya kepada anak-anak, cucu-cucu, atau orang lain. Karena tidak semuanya perilaku kita ada dalam kesadaran kita.

Pastilah kita ada kesalahan satu sama lain, tapi Allah memerintahkan kita untuk memaafkan itu semua. Kita bukan diperintahkan nomor satu untuk meminta maaf, tetapi justru untuk MEMAAFKAN, bahkan tanpa diminta.

“Sungguh kami telah berbuat aniaya terhadap diri kami sendiri”, bahkan kepada diri kita sendiri, kita sering melakukan hal yang merugikan kita di dunia maupun akhirat yang tidak kita sadari, dan perilaku lahir batin kita itu sebetulnya adalah tindakan menganiaya diri kita sendiri.

“Dan kami telah mengampuni orang-orang yang telah berbuat aniaya kepada kami, sebagaimana yang telah Engkau perintahkan.” Kita diperintahkan untuk mengampuni orang yang memberi aniaya kepada kita dan juga mengampuni kami yang menganiaya diri kami sendiri. Jadi kita memang menyadari kesalahan, memaafkan, meminta ampun, menjadi mulia sekali.

“Ampunilah kami karena sesungguhnya Engkau lebih layak untuk mengampuni semua itu daripada kami dan orang-orang yang Engkau perintahkan.”

“Dan Engkau telah memerintahkan kami agar tidak menghardik peminta-minta dari pintu-pintu rumah kami.” Ini penting sekali, kita jangan sekali-sekali merendahkan orang sekalipun dia adalah seorang peminta-minta atau orang yang buruk. Meski kita tidak menolerir perbuatannya dan tidak menyetujui perilakunya, jangan merendahkan orang itu! Ini harus benar-benar disadari betul oleh anak-anak Abah. Kita harus berbelas kasihan kepada orang yang lemah, orang yang tidak beruntung, bahkan orang yang jahat. Kita harus berbelas kasihan kepada mereka. Sebab kebaikan, bahkan iman yang kita miliki bukanlah terjadi karena upaya kita, tapi adalah karena upaya Allah. Dalam khutbah sholat Ied tadi, yang dibaca adalah ayat pertama dari surat al-Baqarah. Dalam ayat itu benar-benar dinyatakan di dalamnya kita harus bersyukur karena kita diberi iman oleh Allah. Dan itu diluar daya kita. Siapa yang bisa menentukan kita dilahirkan oleh orangtua kita? Tidak ada. Itu hanyalah takdir, belas kasihan Allah kepada kita. Jadi pada waktu kita beruntung, pada waktu kita beriman, kita jangan sekali-sekali merendahkan orang yang tidak beruntung, bahkan orang yang berbuat jahat. Ini adalah nasihat yang baik sekali, makanya Abah sengaja ingin kutip kepada anak-anak Abah.

Kalau ada orang meminta-minta, kita jangan membentak atau membencinya. Karena pada hakekatnya, “Kami telah mendatangi Engkau (Tuhan) sebagai peminta-minta.” Kita ini begitu merendah kepada Allah, meminta segala sesuatu kepada Allah, tidak ada bedanya dengan peminta-minta itu. Yang jangan itu adalah kita meminta kepada selain Allah. Tapi kita pada hakekatnya adalah peminta-minta kepada Allah. Dan dalam setiap sholat kita – tolong diingat, sholat jangan dijadikan sebagai ritual saja – pada waktu kita duduk di antara dua sujud: “Robighfirli.. Warhamni.. Wajburni.. Warfa’ni.. Warzuqni.. Wahdini.. Wa’afini.. Wa fu’ani..” Itu adalah do’a kita, yang diberi wadah oleh Allah di dalam sholat-sholat kita. Do’a yang sangat penting. Ampuni kami, kasihani kami, mudahkanlah urusan-urusan kami, muliakanlah kami di mata Engkau, limpahkan rezeki yang Engkau ridhoi kepada kami, lalu berikan kami petunjuk, bimbinglah kami di dalam petunjukMu, berikan kesehatan lahir batin kepada kami, maafkanlah dan ampuni kami. Jadi do’a kita ini pada dasarnya menjadikan kita ini sebagai peminta-minta di hadapan Allah. Sehingga kita jangan sampai merendahkan orang lain yang ilmunya, kedudukannya lebih rendah. Jangan pernah kita tidak menghormati mereka! Itulah yang selalu Abah do’akan, yaitu supaya dalam keluarga Abah dan Ambu jangan ada yang pernah merendahkan orang lain.

Dalam forum umum Abah selalu menyampaikan “RESPECT! RESPECT! RESPECT!” Hargai! Karena tidaklah sia-sia segala sesuatu diciptakan oleh Allah. Bahkan yang buruk sekalipun diciptakan bukan untuk kesia-siaan tapi untuk mempertinggi keimanan keikhlasan kita, andai kita bisa menangkap ilmu dari kejadian buruk atau orang-orang yang mempunyai perilaku buruk sekalipun.

Kemudian “Dan kami pada hakekatnya telah mendatangiMu sebagai peminta-minta yang miskin” Dan memang kita miskin, tidak punya apa-apa. Kita punya harta, rumah, tanah, kendaraan, keluarga, itu hanya karena belas kasihan Allah. “Dan sungguh kami telah merintih di haribaanMu dan pintuMu (setiap kali sholat) untuk menuntut karunia, ma’rifat dan pemberian dariMu. Karena itu ya Allah, anugerahkanlah semua itu kepada kami, dan jangan Engkau kecewakan kami, karena sesungguhnya Engkau lebih layak untuk semua itu daripada kami dan orang-orang yang Engkau perintahkan.

“Ya Ilahi, Engkau Maha Pemurah, oleh karena itu kasihanilah kami bila kami tergolong orang-orang yang memohon kepada Mu. Kasihanilah kami manakala kami tergolong orang-orang yang memohon kepadaMu. Dan Engkau telah menganugerahi seseorang dengan kebaikan bilamana Engkau menganugerahi seseorang dengan kebaikan , gabungkanlah kami bersama orang-orang seperti itu untuk mendapatkan karuniaMu wahai yang Maha Pemurah.”

Kemudian disunahkan untuk memperbanyak membaca istighfar. Mudah-mudahan kita mendapat hikmah dari tulisan hebat ini.

3. NASIHAT UNTUK SUAMI DAN ISTRI
Mumpung kita kumpul bersama keluarga, suami-istri. Nasihat Abah kepada para suami: kita harus mendahulukan untuk memuliakan istri kita. Kita sebagai imam, sebagai pemimpin dalam rumah tangga, tugas suami adalah memuliakan istri, menghormati, mendudukkan ke dalam kedudukan yang dihormati di dalam batin kita. Sebaik ataupun sesalah atau seburuk apapun hal yang diekspresikan oleh istri kita.

Kepada para istri, Abah ingin sampaikan, hal itu berlaku sama. Saling memuliakan, tetapi suamilah yang mendahului. Kita memberi, memberi, memberi kehormatan, dan memberi perhatian. Dan memang pada hakekatnya kita diberi kehormatan untuk memberi. Semulia-mulianya orang adalah yang memberi kepada banyak orang. Sebelum kepada banyak orang, kepada istrinya dan anak-anaknya. Bentuknya apa saja, ekspresinya apa saja, tapi hakekatnya kita diberi tanggung jawab sebagai suami untuk itu. Saatnya memohon maaf kepada pasangan kita masing-masing, andaikatakita tidak berlaku seperti itu.

Sabda Rasulullah SAW, “Sebaik-baiknya orang, adalah orang yang memberikan manfaat kebahagiaan kepada orang lain, di luar dirinya.” Jadi tugas kita adalah memberi, memberi, dan memberi. Dan kebahagiaan itu adalah dari waktu-waktu yang kita alami, yang menurut pengalaman Abah yang sederhana itu, adalah memang tidak sia-sia segala sesuatu diciptakan oleh Allah. Kepandaian kita gunakan untuk bersyukur, menikmati pemberian Allah dan menjadi jalan kebahagiaan bagi kita. Mudah-mudahan juga kebahagiaan di dunia yang dihayati oleh kita ini menjadi dasar untuk kebahagiaan kita di akhirat nanti.

Artikel Terkait:

  1. Alam Semesta Sebagai Penampakan Allah
  2. Belajar Menerima Apa Adanya
  3. Makna Haji (3)
  4. Makna Haji (2)
  5. Tidur Ketika Puasa Adalah Ibadah


One comment
Leave a comment »

  1. [...] Beberapa hal yang sangat penting dan mudah-mudahan menjadi manfaat bagi anak-anakku. [...]

Leave Comment