Tips Meninggalkan Anak – Jangan Pernah Bohong!

Jul 6th, 2012 | By ndoys | Category: Ibu dan Anak, Newest Post

Haira's Morning Goodbye to Papa!

Saat pergi ke kantor di pagi hari, tiba-tiba anak ingin ikut atau minta diajak berjalan-jalan di sekitar rumah, apakah kita menjelaskan secara jujur bahwa kita tidak bisa melakukan itu karena ada kewajiban pergi ke kantor, atau malah berbohong dengan cara mengalihkan perhatiannya ke tempat lain lalu menyelinap pergi? Lebih parah lagi, kita bilang bahwa kita hanya akan pergi sebentar, tahu-tahu kita pulang malam hari.

Hati-hati, bohong kecil dan sering bisa berdampak besar pada perkembangan anak. Anak bisa-bisa tidak mempercayai omongan orang tua karena tidak bisa membedakan mana pernyataan yang bisa dipercaya atau tidak. Sejak saat ia menetapkan bahwa pernyataan orang tuanya itu selalu bohong, mulailah ia tidak menuruti segala perkataan kita.

Berkatalah Jujur Pada Anak

Anak harus diberi pengertian secara jujur. Namun penting untuk menyampaikannya dengan penuh kesabaran dan penuh kasih sayang.

Beri ia penekanan, “Sayang, kalau ke kantor Haira tidak bisa ikut, karena Bubu sibuk. Tapi kalau jalan-jalan pasti Haira bisa ikut!”

Jangan harap dengan sekali omongan ia langsung mengerti, anak butuh proses untuk menerima keadaan ini, karena biasanya ia akan menangis karena belum memahami keadaan mengapa orang tuanya harus pergi ke kantor. Jangan habis kesabaran!

Bujuk Anak Dengan Hal Yang Positif

Berbagai cara bisa kita lakukan untuk membujuknya, misalnya “Haira kan kalau di rumah bisa nonton Barney atau main ke taman, ketemu sama teman-teman. Asyik kan bisa bermain ayunan atau perosotan atau bubble. Kalau di kantor Haira tidak bisa begitu. Nah, sekarang Haira nonton DVD dulu yah, Bubu temani Haira sebentar, lalu Bubu pergi ke kantor ya,” sambil mencium dan berpamitan padanya.

Kita bisa pergi saat ia asyik menonton. Tidak apa-apa, karena sebelumnya kita sudah berpamitan padanya.

Haira mulai bisa menerima saya pergi ke kantor tanpa menangis hebat setelah ia berumur 2 tahun, dimana saya-benar-benar berpamitan padanya lalu pergi meninggalkannya, sementara ia melambaikan tangan dan “merelakan” saya pergi. Kalau sebelumnya sih pasti dia menangis hebat dan sama sekali tidak mau berpisah.

Pastikan kita selalu jujur dalam mengatakan sesuatu, percayalah anak mampu memahami apa yang kita katakan. Penting untuk konsisten supaya anak percaya pada omongan kita dan akan menuruti perkataan kita.

Jika anak sudah mulai tidak menuruti perkataan atau permintaan kita, segera instrospeksi diri. Apakah kita sebagai orang tua tanpa sadar sering membohongi anak untuk menghindari keinginannya? Segera perbaiki sikap kita.

Children do what they see, NOT what they’re told to do.

Artikel Terkait:

  1. Pengalaman dan Tips Menyapih
  2. Tumbuh Gigi di Usia 9 Bulan
  3. Makanan Bayi 9 Bulan
  4. Bayi Rewel Kalau Ditinggal
  5. Cara Mudah Membuat Bubur Untuk Bayi 6 Bulan


One comment
Leave a comment »

  1. hari itu, kartu dan ucapan vilantene serta senyumnya sangat berarti. Jumat itu saya memang sedang gundah karena serangan hantu masa lalu. Sambil menunggu si kecil di sekolahnya entah beberapa kali air

Leave Comment