Mejanya Nakal!

Feb 28th, 2012 | By ndoys | Category: Ibu dan Anak, Newest Post
Pernahkah kita menyalahkan meja atau kursi saat anak kejeduk? ”Aduh, mejanya nakal ya? Sini dipukul mejanya. Cup cup sudah, jangan nangis ya.”
Anak pun terhibur dan akhirnya berhenti menangis.
Tapi pernahkah terpikir oleh kita tepatkah tindakan itu dilakukan? Mungkinkah tindakan itu berdampak jelek terhadap sikapnya nanti?
Memang cara itu terlihat efektif meredakan tangis anak, tapi hati-hati karena efeknya tidak baik untuk jangka panjang. Saat kita melakukan proses pemukulan terhadap benda yang ditabrak oleh anak dan menyalahkan benda itu, secara tidak langsung kita telah mengajarkan anak bahwa ia tidak pernah bersalah dan yang salah adalah pihak lain. Secara logika, sungguh tidak adil sebuah benda mati yang hanya diam saja malah disalahkan. Disini anak akan belajar menyalahkan orang lain. Sayangnya lagi, momen untuk mengajarkan anak belajar dari kesalahan diri sendiri malah tidak dimanfaatkan dengan baik oleh orangtua.
Jika tindakan ini terus-menerus diterapkan, maka ia akan menganggap dirinya selalu benar. Pemikiran ini akan tertanam dalam benak anak dan terus terbawa hingga ia dewasa. Akibatnya, setiap ia mengalami suatu peristiwa jelek atau ia melakukan kesalahan, anak defensif dan menyalahkan orang lain. Ia beranggapan pantas untuk memberi peringatan, sanksi, atau hukuman kepada orang lain yang tidak melakukan suatu kekeliruan atau kesalahan.
Jadi, sebagai orang tua yang bijak, sebaiknya kita mengajar anak sejak dini untuk bertanggung jawab pada apa yang telah ia lakukan, tanpa nada menyalahkan. Contohnya kita bisa mengatakan, ”Kamu kejeduk ya? Sakit ya? Lain kali hati-hati ya kalau melangkah lihat baik-baik.” Atau ”Haira kan masih belajar jalan, jadi jalannya pelan-pelan saja dulu supaya tidak terbentur lagi ya,” sambil diusap-usap atau diobati bagian yang sakit.
Dengan kita menyampaikan situasi yang dialami anak secara fair sambil menghiburnya tanpa berlebihan dengan penuh cinta, anak akan belajar untuk tidak menyalahkan orang lain, belajar dari kesalahannya sendiri serta bertanggung jawab terhadap konsekuensi dari apa yang ia lakukan, namun tetap merasa dicintai dan tidak menjadi rendah diri.
(Twitter: @nurjamila)

Artikel Terkait:

  1. Pengalaman dan Tips Menyapih
  2. Makan Diemut Karena Alergi
  3. Tumbuh Gigi di Usia 9 Bulan
  4. Bayi Rewel Kalau Ditinggal
  5. Cara Mudah Membuat Bubur Untuk Bayi 6 Bulan


Leave Comment