Pengalaman dan Tips Menyapih

Sep 15th, 2011 | By ndoys | Category: Ibu dan Anak, Newest Post

Aku pernah mencoba menyapih secara mendadak ketika anakku Haira berumur 16 bulanan. Pertimbangannya supaya aku bisa puasa tanpa sambil menyusui. Yang aku lakukan hanyalah berhenti memberinya “nono” (istilah yang dipakai kami untuk menyusui). Saat waktunya tidur siang aku pakai baju berlapis-lapis agar sulit “ditembus” jika ia berusaha membuka bajuku, dan sama sekali tidak memberinya nono. Yang terjadi adalah tangisan keras, teriakan “Nono! Nono!”, usaha buka baju secara paksa untuk mencari nono yang tidak berhasil. Ini berlangsung sekitar setengah jam dan ia pun ketiduran dalam keadaan putus asa dan kecapaian karena terus-terusan menangis.

It was a heart-breaking moment. Dan setelah ia tertidur, giliran aku yang menangis karena tidak tega.

Lalu aku sepakat dengan suami untuk menunda proses menyapih selama 2 bulan. Aku pun menunaikan ibadah puasa sambil menyusui, yang ternyata tidak ada masalah. Tidak seperti tahun lalu dimana kebutuhan ASI Haira sangat besar (saat itu ia berumur 6 bulan), aku kepayahan sehingga terpaksa membatalkan puasa selama 28 hari.

Kami memutuskan menyapih Haira segera setelah libur lebaran, yaitu saat ia berumur 19 bulan. Seminggu sebelum proses menyapih dimulai, aku sudah mulai menyampaikan peringatan bahwa minggu depan dia tidak boleh nono lagi. “Nono untuk bayi ya. Haira udah gede.”
Hal ini aku ulang-ulang selalu setiap ada kesempatan, aku harapkan ini tertanam dalam benaknya dan ia memercayainya.
“Nono untuk baaa..?” dia jawab, “Yiii..”
“Haira udah gee..?” dan dia jawab, “Deeee..”

Saat itu rasanya aku belum tega dan rela menyapih, karena Haira masih saja selalu mencari-cari nono, dan nono selalu menjadi pelabuhan saat ia mengantuk, capai, bosan, atau pun gelisah. Sebenarnya aku ingin terus menyusui sampai ia pas berumur 2 tahun. Rasanya sedih merampas 5 bulan haknya menyusui. Namun, kami menyadari itu adalah yang terbaik karena kami ada rencana naik haji tahun ini (saat Haira 21 bulan), dan kami pikir memang sesegera mungkin menyapihnya sebelum pergi adalah untuk kebaikannya juga agar ia punya banyak waktu untuk beradaptasi tanpa nono.

Yang terpenting agar proses menyapih berhasil dengan baik adalah niat dan komitmen penuh. Seperti yang dikutip dari seorang ibu, “Menyusui adalah momen untuk dikenang, bukan untuk dikangeni.” Ini penting untuk ditanamkan oleh ibu supaya emosi ibu bisa terkontrol, rela dan “tega” ketika melakukan proses menyapih. Tidak dapat dipungkiri bahwa momen menyusui adalah hal yang sangat berharga bagi ibu dan bayi. Tapi bagaimana pun seorang bayi harus lepas dari payudara ibu dan itu proses alami.

Setelah browsing sana-sini, aku mengambil kesimpulan bahwa menyapih sebaiknya dilakukan secara bertahap dari segi frekuensi. Ini baik dari sisi fisik (payudara ibu akan menyesuaikan secara gradual) maupun psikologis (menghindari trauma).

Biasanya Haira nono paling tidak 3 kali sehari, yaitu saat tidur siang, sore hari dan tidur malam. Dari bayi memang ia selalu dibiasakan tidur sambil nono. Bahkan kalau terbangun malam-malam pun selalu aku sodorkan nono supaya ia langsung tidur lagi.

Pertama-tama jatah sore hari tidak aku kasih. Penting untuk jujur dan kasih pengertian dengan bahasa yang sederhana. Aku yakin, meskipun belum bisa bicara, tapi ia sebenarnya mengerti apa yang kita katakan, “Tidak nono ya. Nanti malam aja nononya ya. Besok pagi juga Haira tidak nono ya. Tapi besok malam masih boleh nono. Nah, besok lusa tidak nono lagi.” Hanya dengan diberi pengertian begitu, dia pun tidak memaksa.

Hari pertama:
Tidur siang tanpa nono. “Nononya malam aja ya. Tapi besok tidak nono lagi ya.” Aku ulang terus kata-kata itu dengan harapan ia bisa menyiapkan diri dan mentalnya untuk menerima proses menyapih ini dengan baik.

Mendekati waktu tidur, aku deg-degan karena ingat peristiwa 2 bulan yang lalu waktu ia nangis histeris mencari-cari nono untuk tidur.

Yang aku lakukan adalah pakai baju berlapis-lapis, menyiapkan susu botol dan beberapa buku. Dan menunggu sampai dia sudah sangat mengantuk.

Akhirnya keluar juga permintaan itu. “Nono?”

Aku pun langsung bilang, “Kan siang tidak nono, nononya malem aja ya. Nononya maa..?” Dia jawab, “Leeem..”

Tak disangka-sangka dia bisa langsung menerima dan tidak memaksa untuk mendapatkan nono! Memang sempat ada percobaan buka-buka baju, tapi setelah dibilangin pelan-pelan, dia berhenti mencoba dan tidak ada paksa-memaksa. Ia malah bermain-main dengan retsleting bajuku.

Untuk pengalihan, aku tawarkan baca buku. “Haira mau baca buku?” “Mau.” “Buku apa?” “Panas (Thomas)” “Boleh, tapi Haira sambil minum susu ya.”
Baca bukulah kita sambil dia minum susu botol. Dia memang sudah familiar dengan susu botol. Kalau sedang lihat sepupunya minum dari botol, ia pasti ikut-ikutan minta juga. Selain itu aku suka kasih dia susu botol juga sesekali meskipun seringnya malah ditepak. Untungnya kali ini ia mau minum dari botol.

Tidak lama botolnya disimpan lagi. Karena ia sudah mengantuk berat, akhirnya aku memutuskan menggendongnya sambil diayun untuk mempermudah mengantarnya tidur. Saat ini berat badannya 10 kg. Tapi apa boleh buat, memang dalam sebuah proses harus ada pengorbanan. Untungnya pengorbanan ini hanya sebentar saja, 5 menit kemudian dia tidur dengan tenang tanpa tangisan! Kemudian aku duduk dan terus membiarkannya tidur dalam posisi digendong selama 1 jam dulu agar ia pulas, kemudian baru dibaringkan. Dan berhasil.

Setelah itu malah aku yang nangis terharu saking mudahnya ia tidur tanpa nono, padahal dari sejak bayi ia selalu tidur dengan nono.

Tidur malam hari itu masih aku kasih nono. Malam itu aku bilang padanya dengan sedih tapi berusaha kuat, “Ini nono terakhir ya sayang. Haira udah gede. Besok tidak nono lagi.”

Hari kedua:

Tidur siang.
Agak lebih berat dibandingkan kemarin. 1,5 jam dihabiskan dengan membaca buku, memainkan tisu basah, digendong, menolak digendong, memainkan retsleting, minta nono 4 kali, tidak dikasih tapi tidak maksa. Karena dia maksa untuk nonton TV, saat sudah mengantuk berat aku kasih pilihan: mau nonton TV sambil berbaring, atau digendong tapi TV nya dimatikan. Dia pilih yang kedua.

Akhirnya dia pun tertidur dengan sedikit menangis. Sama seperti trik yang kemarin, aku biarkan ia tidur dengan posisi digendong selama 1 jam sebelum dibaringkan. Beberapa saat sempat terbangun dan menangis. Aku gendong sambil diayun, dia menolak. Saat dibaringkan malah menangis keras. Akhirnya aku tepok-tepok pelan dadanya sambil mengusap-usap dahinya. Dia pun tertidur meski sambil menangis. :(

Tidur malam.
Tidurnya mundur 1 jam dari biasanya. Biasa tidur jam 9 ini baru tidur jam 10. Baca buku, minta nonton TV (aku bilang “hanya boleh 1 episode 15 menit ya”), main kartu, nyanyi-nyanyi. Saat sudah mengantuk berat, ia tidak mau digendong. Akhirnya dia berbaring sambil minta “cuyut?” alias perut dan pegang-pegang perut aku. Aku tepok-tepok dadanya dan elus-elus dahinya.

“Haira anak baik, sabar, pinter, soleh, kalau ditepok-tepok bobo ya, merem ya.” I kept reassuring her.

Saking mengantuknya ia menangis. Akhirnya aku gendong sambil duduk, ditepok-tepok, dan ia tetap pegang-pegang perut aku. Ia sempat terbangun sebentar lalu mulutnya otomatis terbuka untuk meraih nono. Sedetik kemudian ia tersadar bubunya pakai baju, akhirnya cuma bilang “cuyut?” dan hanya bisa pegang-pegang perutku. Kasihan sekali melihatnya begitu pasrah.

Tidurlah ia dengan posisi digendong selama 1 jam kemudian dibaringkan.

Jam 3.30 terbangun dan menangis. Digendong tidak mau. Ditepok-tepok dan usap-usap dahi masih nangis tapi tidak berontak. Aku tawarkan minum susu dan dia mau. Saat aku bikin susu dia tetap menunggu di tempat tidur. Sambil minum susu aku ganti diapers nya. Rewel-rewel sedikit dan baru tertidur kembali jam 4.30.

Hari ketiga:
Tidur siang.

Hanya rewel sedikit. Tidur dari jam 12 sampai jam 2.
Sore hari kami sekeluarga pergi dan baru pulang jam 8 malam. Di jalan sempat ngantuk dan sangat rewel. Menolak dikasih susu botol. Rewelnya mereda setelah di tengah perjalanan kita turun dari mobil dan digendong-gendong. Mungkin juga karena AC mobil sangat dingin.

Tidur malam.
Jam 9 masuk kamar, baca buku sebentar. Berbaring dan minta pegang-pegang perut. 15 menit kemudian sudah tidur tanpa nangis, tanpa digendong. :)

Terbangun jam 12 malam, hidung mampet. Nangis rewel dan menolak susu botol. Baru mau bobo kalau digendong sambil duduk. Bergerak sedikit langsung nangis. Mungkin karena tidak enak hidungnya mampet. 10 menit kemudian dia gerah dan baring sendiri.

Hari keempat:
Tidurnya rewel karena sakit flu. Badan panas, hidung mampet. Tapi sudah tidak cari nono sama sekali.

Tips Menyapih:
- Beri pengertian positif pada anak secara berulang-ulang bahwa ia akan disapih. Paling tidak beberapa hari sebelum penyapihan dimulai. Terbukti anak kecil sebenarnya mengerti apa yang kita tekankan pada mereka, meskipun kemampuan bicaranya belum terlihat. Ini juga penting untuk menghindari rasa kaget dan trauma jika proses menyapih dilakukan secara mendadak.
- Lakukan proses menyapih secara bertahap. Hari pertama sore tidak dikasih. Hari kedua sepanjang hari tidak dikasih, namun malam masih tetap dikasih. Baru keesokan harinya full siang-malam tidak dikasih.
- Pakai baju berlapis-lapis agar sulit ditembus jika anak memaksa mencari payudara
- Jika anak tidur digendong, baringkan ia setelah 1 jam tertidur. Ini dilakukan karena ia akan mengalami mengalami fase REM (rapid eye movement) antara menit 45 – 1 jam. Fase ini dikenal sebagai (light sleep) dimana ia akan sedikit terjaga. Jika ia bisa langsung tertidur kembali, maka ia akan masuk dalam fase tertidur pulas (deep sleep) dan bisa tidur sampai berjam-jam. Namun jika di waktu 45 menit – 1 jam itu ia terjaga dan terbangun segar, maka siklus tidurnya akan mulai dari awal lagi, yaitu ia akan mengalami kembali fase REM antara 45 menit – 1 jam.
- Sediakan bantal penyangga tangan dan punggung.
- Jika kita menggendong pakai tangan kiri, siapkan barang-barang penting seperti ponsel, buku, botol susu, dan remote tv untuk memudahkan dijangkau saat menungguinya tidur
- 2 hari pertama menyapih sebaiknya ASI tetap diperah untuk menghindari demam dan rasa nyeri yang sangat. Perahlah bagian yang menggumpal keras saja, tidak perlu sampai mengosongkan payudara.

Semoga dengan berbagi pengalaman ini ada hal-hal positif yang bisa diambil oleh para ibu yang berniat menyapih. Namun perlu diingat apa yang aku alami ini belum tentu berhasil diterapkan pada semua anak. Setiap anak memiliki sifat dan karakter unik, juga waktu kesiapannya masing-masing.

Have a pleasant weaning experience! (@nurjamila)

Artikel Terkait:

  1. Hati-hati Diare Bisa Menyebabkan Kejang
  2. Bayi Kedinginan
  3. Ruang Bayi di Kantor
  4. Payudara Bengkak dan Tersumbat
  5. Jerawat Bayi


Leave Comment