Hati-hati Diare Bisa Menyebabkan Kejang

Jun 5th, 2011 | By ndoys | Category: Ibu dan Anak, Newest Post

Hari Kamis sore anakku, Haira (15 bulan) berenang selama satu jam di kolam air dingin kemudian pindah ke kolam air hangat. Setelah berenang ia naik mobil ber-AC, dan malamnya muntah-muntah sampai 5 kali. Makanan dan minuman yang masuk, termasuk ASI, dikeluarkannya lagi. Sepanjang malam perutnya kosong hanya terisi beberapa teguk air teh manis hangat.

Keesokan harinya, hari Jumat, ia tidak berselera makan. Setiap waktu makan hanya masuk tiga suap saja. Malamnya ia mencret dua kali. Hari Sabtu pagi ia mencret lagi. Tetapi TIDAK DISERTAI DEMAM. Badannya memang lemas dan agak rewel. Kemudian kami sekeluarga pergi ke Bandung. Sesampainya di Bandung TIBA-TIBA HAIRA KEJANG. Matanya mendelik ke atas, kakinya bengkok, badannya kejet-kejet dan mulutnya terbuka mengeluarkan suara “Grok! Grok!” kami sangat panik, dan langsung membawanya ke RSIA Hermina, Pasteur. Di perjalanan menuju Hermina kejangnya berhenti. Waktu kejang kurang lebih selama 3 menit. Setelah kejangnya berhenti ia langsung menangis lemah, minta ASI, dan tertidur sebentar, kemudian bangun dan rewel sekali.

Tidak lama kami sampai di IGD RSIA Hermina dan ditangani dokter jaga. Ia menyarankan Haira cek darah untuk mengetahui level elektrolitnya. SATU SETENGAH JAM KEMUDIAN HAIRA KEJANG LAGI. Kali ini sekitar satu menit dan disertai muntah yang menutupi hidungnya. Dokter menggunakan suction untuk menyedot muntahnya keluar. Kemudian ia langsung diberikan obat kejang melalui dubur. Setelah kejangnya berhenti, ia diinfus untuk mengganti kehilangan cairannya akibat muntah dan diare. Pemasangan infus agak sulit karena ia memberontak. Namun akibat obat kejang, ia mengantuk dan tidur sangat lama selama 3 hari ke depan. Bahkan ketika waktunya bangun pun matanya terlihat sayu. Setelah beberapa hari mencret belasan kali sehari, akhirnya di hari ke 5 frekuensi mencretnya berkurang sampai 3 kali sehari saja.

Hasil lab untuk faeces tidak menandakan adanya bakteri sehingga dokter menyimpulkan mencretnya akibat virus. Namun yang membingungkan adalah hasil lab untuk elektrolit yang relatif nomal. Sehingga dokter ahli syaraf anak yang menangani Haira tidak mengambil kesimpulan bahwa kejang tersebut diakibatkan gangguan metabolik (gangguan elektrolit akibat kekurangan cairan). Jadi ia menyarankan agar Haira melakukan rekam otak EEG supaya lebih yakin.

Namun kami tidak segera melakukan EEG karena beberapa pendapat ahli medis lain yang menyatakan tidak perlu. Kami semakin yakin setelah berkonsultasi ke dokter spesialis anak yang biasa menangani Haira seminggu kemudian untuk kontrol. Beliau menyatakan bahwa memang telah beberapa kali ditemui kasus kejang akibat mencret (tanpa demam dan level elektrolit yang normal). Istilah medisnya “BENIGN CONVULSION WITH MILD GASTROENTERITIS”. Jika kejang berulang, barulah perlu cek EEG. Namun seiring bertambahnya usia, resiko kejang akibat mencret ini akan menghilang dengan sendirinya.

Kita tidak akan pernah tahu kapan mencret berikutnya akan mengakibatkan kejang. Untuk itu beliau menyarankan agar kami selalu sedia obat kejang yang dimasukkan ke dalam dubur untuk mengatasi kejang bila terjadi lagi. Semoga saja ini kejang yang terakhir bagi Haira.

Berikut beberapa tips dari pengalaman anak kejang:
-    Jika anak muntah atau diare segera minumkan oralit sebanyak dua kali lipat cairan yang keluar untuk mencegah kehilangan elektrolit maupun dehidrasi yang bisa berakibat fatal. Jika oralit tidak tersedia, bisa diganti dengan air teh manis hangat ditambah garam sedikit.

-    Jika kejang sudah terjadi, perhatikan beberapa ciri yang akan menentukan jenis kejang. Berikut pertanyaan dokter mengenai kejang: “Apakah mulutnya mencong? Apakah kepalanya menoleh-noleh? Bagaimana keadaan kaki dan tangannya, apakah bengkok dan kaku? Bagaimana matanya ketika kejang, apakah mendelik ke atas atau lurus ke depan?”

-    Selalu sedia obat kejang (Stesolid 5 mg/ 2.5 ml Diazepam) dan bila anak mengalami kejang segera buka tutup ujung kantung obat dengan cara diputar dan ditarik, kemudian tunggingkan anak dan masukkan bagian ujung ke dalam dubur, pencet bagian badan obat agar isinya keluar, kemudian sambil masih dipencet tarik kantung obat keluar. (@nurjamila)

Reference: http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/12453597

Artikel Terkait:

  1. Makan Diemut Karena Alergi
  2. Ide Permainan untuk Anak Umur 6 Bulan Lebih
  3. Tumbuh Gigi di Usia 9 Bulan
  4. Bayi Rewel Kalau Ditinggal
  5. Merubah Kebiasaan Bayi Tidur Digendong


30 comments
Leave a comment »

  1. Yang penting bapak ibunya jangan panik. Lakukan saja prosedur penanganan kejang (pemberian stesolid). Kalo panik dikhawatirkan terjadi salah prosedur seperti salah colok stesolid, yang harusnya lubang dubur malah lubang kuping yg disemprot… eh salah, maksudnya pas udah disemprot di dalam dubur, sebelum ditarik keluar–karena panik—pencetannya udah kita lepas, ya masuk lagi obatnya ke dalam tube-nya.

    Kalo bapak ibunya punya riwayat kejang, harus selalu sedia stesolid di kulkas.

  2. share yang sangat bermanfaat mba. makasih utk sharenya ya..
    aku jg pengalaman anak pertama dulu kejang. sampe skrg suka deg2an kalo anak deman :)

  3. Jgn hnya seedia stesolid 5mg klu aanak brat bdannya kurang dari 10 kg dkasig yg 5 mg tp klau lebih dri 10 kg berikan stesolid dosis 10mg

  4. Terima kasih banyak atas infonya.

  5. Anakku amanda (2 tahun 3 bln) juga kena diare tanpa demam dan mengalami kejang, setelah diopname di RS selama 4 hari, Alhamdulillah sekarang sudah sembuh. Tapi dokter anak menganjurkan tetap rutin minum obat anti kejang Depakene Syrup dan disarankan EEG.. yg saya bingung.. di surat pengantar untuk EEG tertulis Diagnosa : Suspect Epilepsi.. padahal dari kecil adek tdk pernah kejang sebelumnya. Alasan dokter karena kejang tanpa demam bisa jadi suspect repilepsi. Apakah itu benar ??? mohon infonya..

  6. anakku amanda (2 thn 3 bln) kemarin diare dan disertai kejang, diopname selama 4 hari di RSU. Oleh dokter diberi obat2 an, salah satunya obet anti kejang depakene syrup. Analisa dokter..karena anak kejang tanpa disertai panas maka didiagnosa suspect epilepsi ??? apakah itu benar ? Pdhl dari kecil adek tidak pernah kejang sampai terkena diare itu. Yang sy khawatirkan, obat anti kejang itu adalah obat rumatan, bukan obat serangan (spt batuk, pusing dsb..) jadi harus diminum terus rutin. Adakah efeknya pada anak? Mohon infonya bagi bapak/Ibu yang tahu/pernah mengalaminya. Terima kasih

  7. salam kenal

    kebetulan anak saya mengalami kasus yang sama dengan Haira, terjadi senin pagi 26 des 2011 (kejang sampe empqt kali matanya memandang keatasa dan kakinya melengkung, badannya nggak panas)-29 des 2011 anak sudah diperbolehkan pulang. namun dokter merekomendasikan untuk tes EEG, ditulisan disurat rekomendasinya tertulis “suspect epilepsi”. padahal dikeluarga saya dan istri tidak ada riwayat kejang dan epilepsi. mohon sarannya, haruskah saya ikuti saran doker tersebut? thanks

  8. @ibu anggar: pengalaman waktu Haira memang dikasih obat anti kejang rutin selama beberapa hari (tapi saya lupa dosis tepatnya). Alhamdulillah dia sehat-sehat saja sampai sekarang. So don’t worry.. :)

    @yudibatang: Salam kenal juga. Sama pak, di keluarga saya tidak ada riwayat epilepsi. Waktu itu juga Haira disarankan menjalani EEG dengan “suspect epilepsi”. Tapi setelah ibu saya yang juga dokter menanyakan kepada rekan-rekan ahli syarafnya utk second, third, forth opinions mereka mengatakan tidak perlu. :)

  9. @Amoo: Ati-ati jangan sampe semprot ke lubang idung lo, bang! :D

  10. Kisahnya mirip bgt pernah dialamin anak saya..dia mencret..ga napsu makan..trus aku ga kasi oralit krn dia ga mau..stlh makan obt dokter sih mencret nya berhenti lgsg..tp lemes bgt n susah makan..trus dua hari kmdn tiba2 kejang..tanpa demam sama skali..kita bawa ke rmh sakit jg di curigai epilepsi..kadar elektrolit jg normal..akhirnya semped dikasi depakene sampe hampir empat bulan..krn takut kejang berulang yg dpt merusak otak..tp kita jg kuatir depakene bs merusak ginjal,,dokter suru cek ginjal tiap tiga bln..stlh tny sana sini dokter di indonesia ga ada yg bisa kasi jwban pasti apa sakit anak saya..kenapa bisa kejang..dan apakah perlu minum depakene..akhirnya kita ke dr di singapur..lupa nama dokternya apa..tp di rs wonderland kalo ga salah..dan dokternya blg ga apa..dokter waktu kecil jg kejang dan tidak minum depakene,,skrg jg bs jadi dokter..jadi tenang..yg ptg klo mencret lg arus cukup oralit dan cairan..akirna kita lgsg stop depakene..awalnya deg2an jg..skrg udah satu stgh tahun berlalu dari kejadian kejang itu..

  11. anak say jg mngalami kejang tanpa demam.usianya 9buln.serangan kejang prtama trjadi sminggu lalu.
    tiba2 kejang pdhl suhu badanny 36drajat.siangnya jg bgitu.
    truz kmarin sore d rumah kejang&hri ini kejang lagi(kejang saat sudah opname d RS&segera d bri obat stesoid klo tdk salah&oksigen ).

    kira2 knapa ya kejangny itu?sbelum kejang datang tiba2 dia lemas.
    padahal anak tdk sakit.saat tdk kejang dia sehat dan sangat aktif.

    apa perlu tes EEG?
    apa ada kmungkinan epilepsi?d kluarga saya&suami tdk ada yg mnderita epilepsi.

    apakh kejang yg brulang akan mmpengaruhi perkmbangan otaknya,pdhl anak saya cukup bagus tumbuh kmbangnya..?

  12. @ibu Devi: Terima kasih atas sharingnya.

    @ibu Mima: Menurut pendapat saya, sebaiknya cek ke dokter ahli syaraf anak saja, Bu. Thanks.

  13. Posting2 dari bapak2 dan Ibu2 persis seperti apa yang anak saya alami sekarang. Anak saya yasmina usia 14 bulan, anak pertama kami tinggal di tasikmalaya. awalnya ia hanya muntah muntah saja. kemudian pagi harinya disertai mencret.Siangnya ia kami bawa ke bidan terdekat untuk diperiksa.Pulang dari bidan, belum juga sampai rumah ia mengalami kejang pertamanya, matanya terbalik, tangan dan kakinya bengkok mengejang, hal itu terjadi kurang lebih 1 menit. Kami sangat panik, kemudian kami segera bawa ia ke dokter spesialis anak.Tiba di sana ia tampak segar kembali dan bermain dg ibunya.Dokter mengatakan ia hanya dehidrasi sedang,dan ketika kami mengatakan bahwa ia mengalami kejang, dokter malah balik bertanya, “Betul gak kejang? pernah lihat orang kejang ga sblmnya?”Namun akhirnya dokter pun tetap memberi kami stesoid. “buat jaga-jaga” ujarnya.Esok harinya, ia masih muntah dan mencret2, siang pukul 12an anak kami terlihat ngantuk dan ibunya segera menyusuinya.Namun tiba-tiba ia kembali mengejang, mata juling kemudian terbalik, kami kembali panik. Untungnya, (ciri khas orang indo, banyak untung) waktu ke dokter kemarin dikasih stesoid. Segera kami suntikan ke duburnya. Ia akhirnya dibawa ke UGD dan dirawat 3 hari (sampai sekarang 11-6-12).Hasil tes darah tidak ditemukan gangguan apapun(termasuk elektrolit yg normal).Namun dokter yang memeriksa tetap menyarankan utk dilakukan EEG Di bandung. Haruskah saya mengikuti saran dokter?ataukan tidak, seperti halnya Haira di atas?

  14. Dear pak Teguh, saya masih kebayang betapa stress nya menghadapi anak kejang. Saran saya, cari second, third or maybe fourth opinion. Tapi alhamdulillah anak saya sampai sekarang umur 28 bulan tidak mengalami kejang lagi. :)

  15. Ok. Thanks ya mbak. Kayaknya sayapun akan coba ngikutin saran mbak. Anak saya tinggal masa pembugaran. Sambil masih tetap konsumsi obat dari dokter untuk 1 bulan kedepan ini

  16. Mbak anak saya kebetulan mengalami hal yang sama. Dia malah umurnya dibawah satu bulan, di beberapa hari yang berbeda telah terjadi kejang sampai saat ini masih dibawah 30 hari sudah empat kali. Masing2 kurang dari 1 menit.

    Susu badan 36-37, dan selama ini memang agak mencret tapi sudah mendingan. Boleh advise medikasi apa yang diberikan ke anak Mbak setelah mengabaikan anjuran EEG? Dan haruskah dikonsumsi anak secera terus menerus sampai rentang waktu tertentu?

    Apakah dari terakhir kejang anak Mbak tidak pernah kejang sama sekali.

    Mohon advise.

    Thanks

  17. informasi yg sangat bermanfaat, setidaknya mengurangi kekhawatiran orang tua akibat kejang yg di sebabkan oleh diare.

    :)

  18. Salam Pak/Ibu Aziz, waktu itu anak saya kejang hanya 2 kali dlm 1 hari dan sebelumnya dia muntah dan diare berat. Setelah itu alhamdulillah tidak pernah kejang lagi sampai saat ini usianya 3,5 thn.
    Saya hanya memberikan obat yg diberikan oleh dokter saja, kalau tidak salah dikonsumsi 4-7 hari (maaf saya lupa tepatnya).
    Tapi dokter anakku menyarankan jika kejang berulang harus cek EEG. Coba saja cari second opinion, semoga lekas sembuh..

  19. Salam kenal,
    Kebetulan kisahnya persis sama dengan apa yg dialami oleh anak saya Abelle (1y 7mo). Hari minggu kemarin anak saya kejang tanpa demam. Beberapa minggu sebelumnya Abelle sempat susah makan dan 5 kali muntah. Minggu pagi bangun seperti biasa lalu tidak berapa lama Abelle nangis sampai sesegukan lalu saya gendong. Gak berapa lama setelah saya gedong, Abelle kejang, mata terbalik keatas, kaki bengkok, tangan mengepal keras, mulut membiru dan agak mencong. Dengan panik saya dan suami membawa Abelle ke UGD Rs Puri Cinere. Diperjalanan Abelle mengeluarkan suara “grook grook” juga. Sampai di UGD Abelle seperti pingsan, lemas, coba disadarkan oleh dokter tapi tatapannya kosong dan setelah itu keluar BAB cair dan bewarna pucat. Kemudian dokter jaga dan dokter anak juga menanyakan apakah kejang disertai demam. Karena kalo tidak diagnosanya menuju ke epilepsi dan harus di EEG. Lalu Abelle diinfus dan dirawat saat itu juga. Sore hari Abelle dimandiin dengan waslap oleh dua suster dan ditemani saya dan suami, mungkin karena sedang sakit dan anxiety, Abelle menangis seperti tidak nyaman di waslap oleh suster dan beberapa menit kemudian Abelle kembali kejang dengan ciri-ciri yang sama seperti kejang sebelumnya tapi kejang kedua disertai dengan keluarnya ludah. Kemudian suster memberi obat anti kejang lewat infusan. Karena pada saat itu sedang hari raya, dokter yang biasa menangani Abelle sedang cuti dan digantikan oleh dokter yang ada saja. Oleh dokter di RS Puri Cinere, disimpulkan Abelle mengarah ke ciri-ciri Epilepsi dan disarankan untuk EEG. Tapi untuk EEG dokter mengharuskan si anak untuk tidur dengan alami dan tidak dibantu dengan obat tidur padahal hari itu Abelle baru bangun tidur. Hari ini anak saya sudah dirumah dan saya belum cek EEG. Mudah-mudahan kejang tanpa demam yang dialami anak saya hanya disebabkan oleh diare saja. Pengalaman mbak di postingan ini benar-benar mambantu menenangkan hati saya.
    Terima Kasih.

  20. Ibu Syifa, semoga anaknya cpt sembuh ya..

  21. Ibu Syifa,
    Anak saya, Aish 1 th 4 bln mengalmi hal demikian, dia do EEG dan terapi dg obat. Kalau boleh tahu, bg kbr putri Ibu? Sehat selalu kan? Kmi msih trauma dan berasa cemas. Terima kasih.

  22. Salam kenal, hanya ingin sharing. Bulan november 2013, Anak saya Khalid juga mengalami kejang tanpa demam, disertai muntah2sampai lemas. Dsa menyarankan untuk konsul ke dr saraf anak krn dikhawatirkan epilepsi atau meningitis. Kami sempat mengabaikan saran dsa krn berfikir tdk mungkin anak kami mengidap epilepsi. Ttp ternyata kejang berulang dan akhirnya dr saraf menyarankan utk ct scan. Ternyata ada tumor di otak kiri depan Khalid, 16 dec 2013 khalid dioperasi. Skrg khalid sedang menjalani radioterapi. Maaf semuanya, hanya ingin sharing pengalaman saya yg tidak mendengarkan saran dokter. Semoga kita semua dalam lindunganNya

  23. @meydi: ya ampun… semoga Khalid cepet sembuh yah.. thank you for sharing.. ini jd pelajaran buat kami juga..

  24. Saya juga pengin sharing pengalaman saya dengan putri saya (3 th) yang mengalami hal serupa, kejang tanpa demam dengan di dahului dengan diare dan muntah-muntah. Waktu itu kejang sampai 3X dalam 24 jam. Setelah opname 5 hari membaik dengan mendapatkan kutoin injeksi lewat infus kalau saya gak salah. Setelah itu dilakukan EEG hasilnya abnormal mengarah ke epilepsi. Karena trauma khawatir kejang terulang lagi akhirnya kami menyerah untuk melakukan terapi OAE dengan depakene syr. Walopun kami tidak berhenti untuk terus melakukan second, trith, fourth, dst opinion dari dokter2 yang dikenal kompetensinya, tapi jawabannya rata2 semua sama diteruskan saja pengobatannya daripada kejang lagi resikonya lebih besar buat sang anak. Bulan ini setahun sudah terapi, minggu lalu dilakukan EEG ulang, ternyata hasilnya masih abnormal walopun tidak pernah mengalami kejang lagi dalam setahun terapi tersebut., sehingga dosis belum bisa di turunkan sampai setahun lagi. Sedih banget, tapi hidup harus terus berjalan. saya tetap berharap bisa bertemu dengan dokter seperti yang pernah bunda sharing di rumah sakit wonderland singapura, yang lebih meng update ilmunya, dan bisa memberikan diagnosa dan terapi yang terbaik untuk pasiennya. Bunda kalau ada informasi yang lebih jelas tentang dokter tersebut saya mohon di info, saya akan datangi demi putri kecil saya. Makasih.

  25. Saya juga mengalami hal yang mirip dengan putri saya (3 th). Saat ini sudah menjalani terapi depakene syrup selama setahun. Ternyata hasil EEG terakhir mengharuskan terapi di perpanjang sampai 2 tahun. Sedih sekali melihat anak tiap hari minum obat. Kepada bu Devi, kalau bisa di info nama dokter di singapura di RS wonderland itu siapa? saya akan datangi demi putri saya, karena saya sudah mencari second, thrith, fourth, dst opinion tapi jawabnya tetap sama, harus bebas kejang selama 2 tahun sampai 3 tahun. Terimakasih sebelumnya.

  26. anak pertama saya juga mengalami hal yang sama, cek feses ,darah dan terakhir EEG ,semua tidak ada masalah. setelah opname 3 hari di RS, kami pulang, cuma dibekali 1 biokids. tidak perlu terapi obat slama dua tahun. dan sekarang sudah 1 tahun 9 bulan sejak kejadian itu,mudah2an tidak ada kejang lagi, semoga sampai seterusnya.Tapi sedihnya hati ini, anakku yang kedua (9 bulan) sudah 3 hari minum obat untuk terapi epilepsi 2 tahun. Tidak terpikirkan kenapa bisa begini? stress rasanya..mohon doa teman2 smua, spy anak saya kuat dan tidk kejang lagi spy pengobatannya sukses. amin

  27. udah 2 hari anak saya juga diare. tapi mudah2n jagan sampai parah deh, ngeri juga baca pengalaman mbak mengenai anaknya

  28. aku skrg jg lg di rs. alio putra ke 3 kami 14mo mengalami hal yg sama dg haira. hassil tes darah semua normal. mudah mudahan besok sudah bisa puang ke rumah lg…. terimakasih bunda bunda sudah berbagi pengalamannya… sangat bermanfaat.

  29. Anak sy juga baru step kemarin malam gan.. Bingung banget karena baru pertama kali ngalaman kyk gitu.
    Untungnya pas ada ortu di rumah, jadi lgsg ditangani ditidurin di lantai dan ditelanjangi sama dicipratin air.
    Alhamdulilah anak sy lgsg sadar dan nangis. Bener2 pengalaman berharga..

    Klo berminat berkunjung ke web sy ya gan..
    http://interiorsamarinda.co.id/

  30. Salam kenal, Anak saya jg mengalami hal yg sama kejangnya d usia dini 7 bln, dlm kurun wkt 6 bln sejak kejang pertama 12 kali malah, diantaranya 2 kali kejang badannya gak demam, rata2 penyebabnya infeksi pernafasan sama diare, diagnosis dokter complex febrile seizures dd epilepsi, tapi dokter sarafnya gak kasi OAE, cmn dsuruh bikin note lg kejangnya gmn sama divodeo kalo kejang lg.. trus coba ke dsa lain ad yg rekomendasi sama dokter itu dikasi dapekene dosis 2 ml x 2, stlah rundingan sm suami obatnya gak saya minumkan, takut jg kasian ke anaknya jk panjang, kita masih yakin kalau anak sy rata2 ada pencetusnya yaitu karna demam yang mendadak tingg trus dy sakit, soalnya abis kejang baru panas tinggi cmn satu kali aja dy bner2 gak panas karna gak diangkat dr kursi makannya nanggung sy lg masak, sampe dokter diagnosis breath holding spells kalo kata org sunda gak boleh ada kesel, alhamdulillah skrg anak saya 15 bln sehat (baru 2 bln sih dr kejang trakhir) , pertumbuhannya seperti anak lain, cmn harus ekstra jaganya ikhtiar jangan sampe sakit, kalo diare cpet2 kasi lactobe sama minum asi yg banyak , tiap hari jemur, balurin minyak telon pake bawang buat jaga kondisinya aj, makan teratur buah sayur , lwbih diperhatikan, Bgtu pengalaman saya , mdh2an Allah kasi kesehatan , kesembuhan buat anak2 kita gak meninggalkan gejala sisa …

    Q

Leave Comment