Anak 1 Tahun Terlalu Manja? Itu Sangatlah Normal!

Apr 14th, 2011 | By ndoys | Category: Ibu dan Anak, Newest Post

Kata-kata suamiku yang paling aku ingat adalah “Anak adalah titipan Allah, masa kita titipkan lagi ke orang lain.” Itulah mengapa aku bertekad sepenuhnya untuk mengasuh anakku secara fulltime. Aku mengundurkan diri dari tempatku bekerja supaya anakku, Haira (sekarang 14 bulan) bisa sepenuhnya aku pegang, dan sampai sekarang pun aku masih menyusuinya.

Berbagai sumber aku pelajari tentang bagaimana cara merawat dan mendidik anak dengan baik. Dari mulai memberikan ASI eksklusif, jadwal tidur, main dan makan yang teratur, permainan stimulasi, sampai positive parenting. Dan aku pun percaya diri menghadapi anakku tanpa campur tangan orang tua.

Namun kemarin ini aku sempat meragukan kemampuanku mendidik anak saat beberapa orang menganggap Haira “terlalu manja”. And it’s really heart-breaking.. Saat itu aku berpikir, “Aku merasa telah melakukan yang terbaik, namun ternyata tidaklah begitu. Buktinya Haira tumbuh menjadi anak yang manja.”

Yang selama ini aku yakini (berdasarkan ilmu psikologi anak dan berbagai sumber-sumber terpercaya) adalah jika kita memenuhi kebutuhan emosi anak, niscaya ia akan tumbuh menjadi anak yang percaya diri karena ia akan selalu merasa aman karena merasa selalu ada yang melindungi dan ia pun percaya bahwa ibunya adalah orang yang bisa diandalkan. Ia pun akan tumbuh menjadi anak yang pemberani karena ia yakin bahwa apa pun yang ia lakukan, ibunya akan selalu melindungi dan mendukungnya.

Jadi itulah yang aku lakukan, jika Haira menangis atau rewel aku penuhi kebutuhannya, bisa dengan sapaan ramah yang menenangkan, pelukan, menggendongnya sambil tepuk-tepuk punggung, atau juga menyusuinya. Selama proses ini aku sempat diprotes beberapa kali karena adanya ketakutan Haira kelewat manja – dikit-dikit diperhatiin. Aku pun gundah dan menjadi ragu dengan caraku selama ini mengatasi Haira jika ia rewel, tapi kemudian aku bertanya, “Jadi kalau Haira nangis apa yang seharusnya aku lakukan? Membiarkannya??” Seringkali orang hanya mengkritik tanpa memberikan solusi.

Tapi sejak usia 6 bulan, dia jadi over dependent sama aku. Meskipun sebenarnya ia hanya menangis sebentar saja sih saat aku meninggalkannya, tak berapa lama setelah aku hilang dari pandangannya ia pun akan “lupa” tangisannya. Tapi ia akan menangis lagi jika melihatku dan pasti ingin digendong olehku. Menurut berbagai sumber yang terpercaya, ini adalah hal yang lumrah – hanya sebuah fase yang akan berlalu, dan kita akan sangat merindukannya jika ini sudah berlalu. Jadi saran terbaik yang harus dilakukan adalah mensyukuri dan menikmati ketergantungannya ini.

Tapi ternyata sampai umur 14 bulan ia semakin “manja”, maunya hanya ke aku saja. Kalau keinginannya tidak terpenuhi ia akan menangis keras sambil menjengkangkan tubuhnya ke belakang berkali-kali. Ditambah omongan orang-orang yang menyatakan ia manja, aku pun bimbang. Apakah ini saatnya aku harus mengajarkannya kemandirian? Kalau aku tetap dengan caraku sekarang yaitu memenuhi kebutuhan emosionalnya, apakah ia akan keterusan manja sampai besar? Bahkan aku sempat meragukan tekadku untuk terus menyusuinya sampai beberapa bulan ke depan, karena kekhawatiran ia akan manja berlebihan.

Ingin rasanya aku melepas Haira supaya belajar nyaman dengan selain diriku agar ia mandiri dan tidak ketergantungan denganku. Tapi di sisi lain aku takut attachment denganku berkurang, dan aku amat sangat tidak percaya diri. Kalau Haira aku latih untuk dekat ke orang lain (misalnya pengasuhnya), apakah ia akan lebih dekat ke orang itu dibandingkan denganku? Selain itu, jika aku benar-benar melepasnya, aku sangat takut ia akan memiliki perasaan terabaikan oleh ibunya sendiri, apalagi jika ia tahu aku sebenarnya available.

Setelah berhari-hari dalam dilema, pakai acara nangis-nangis segala, tanya pendapat ibu-ibu lain, dan browsing sana-sini, syukurlah aku mendapatkan jawabannya:

Pertama: secara psikologis, anak umur 10-18 bulan memang akan mengalami puncak-puncaknya separation anxiety, jadi di umur ini ia terlalu “manja” hanya ingin bersama ibunya SANGATLAH NORMAL.

Kedua: di hati anak, ibu adalah nomor satu, bahkan meskipun mereka tidak bertemu selama berbulan-bulan – bahkan bertahun-tahun – anak akan nempel lagi sama ibunya (pengalaman nyata dari seseorang). Jadi tidak usah khawatir untuk menyerahkannya pada orang lain jika kita memang sedang tidak bisa hadir untuk anak kita, tidak perlu merasa bersalah atau bahkan berpikir bahwa anak akan merasa terabaikan dan sakit hati, anak akan tetap menanggap ibunya lebih istimewa.

Ketiga dan yang terpenting: Kebutuhan emosi anak haruslah dipenuhi agar ia tumbuh menjadi anak yang percaya diri, itu betul.

Satu lagi yang membuatku percaya diri kembali yaitu setelah membaca pengalaman seseorang di bawah ini yang aku kutip dari babycenter.com:

“My first daughter could be described as clingy, and I respected her need to be close to me. I never pushed her away and I never insisted she play with groups of children if she preferred to be on her own. Around the time of her third birthday, she became more social, more eager to play without me by her side. When she began preschool, she was one of the few children who did not cry when I left her for the first time. I strongly believe that allowing her to be dependent when she needed me encouraged her independence. She was confident in her attachment to me so it was easier to let go.” (@nurjamila)

Artikel Terkait:

  1. Agar Anak Gemar Membaca
  2. Tanda Terlambat Bicara
  3. Bayi Panas dan Mencret
  4. Dehidrasi pada Bayi
  5. Mainan yang Tepat Untuk Bayi Umur 1-12 Bulan


Leave Comment